Pinjol: Jebakan Psikologis di Balik Kemudahan Digital

Pinjol: Jebakan Psikologis di Balik Kemudahan Digital

Oleh:     M. Ekmal Yusuf Putra
Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana UNILAK

Teknologi telah memangkas habis jarak antara keinginan dan pemenuhan kebutuhan. Apa yang dulunya membutuhkan proses administrasi perbankan yang panjang—mulai dari survei, agunan, hingga wawancara—kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit lewat genggaman tangan. Namun, kehadiran Financial Technology, khususnya pinjaman online (pinjol), telah mengubah pola perilaku keuangan kita secara drastis, seringkali ke arah yang tidak terduga.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyodorkan fakta yang meresahkan: Generasi Z dan Milenial mendominasi lebih dari 50% pengguna pinjol. Sayangnya, tingginya partisipasi ini berbanding lurus dengan tingginya risiko kredit macet di kalangan usia muda. Fenomena ini menelanjangi satu realitas pahit: rapuhnya financial behavior (perilaku keuangan) kita di hadapan kemudahan teknologi.

Masalah utamanya bukan terletak pada aplikasinya, melainkan pada jebakan psikologis yang disebut "Present Bias"—kecenderungan alamiah manusia untuk mengejar kepuasan instan dan mengabaikan risiko masa depan. Fitur Paylater dan pinjaman kilat memanipulasi otak kita untuk melihat "Limit Kredit" sebagai "Aset Tambahan". Ini adalah sesat pikir (logical fallacy) yang fatal. Kita sering merasa "kaya" hanya karena memiliki limit Rp10 juta di aplikasi, padahal sejatinya angka tersebut adalah murni utang yang harus dibayar.

Dalam kacamata ilmu manajemen, utang seharusnya berfungsi sebagai alat ungkit (leverage) untuk produktivitas, bukan penambal gaya hidup. Ketika seseorang meminjam dana berbunga tinggi hanya untuk kebutuhan konsumtif—seperti liburan atau membeli gawai terbaru—ia sejatinya sedang melakukan bunuh diri finansial secara perlahan.

Rumus kewarasannya sederhana: Jaga rasio cicilan utang tetap di bawah 30% dari pendapatan. Jika cicilan Anda sudah melebihi angka tersebut, Anda bukan lagi sedang dibantu oleh teknologi, melainkan sedang diperbudak olehnya.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan keadaan. Cerdas finansial bukan tentang seberapa cepat dana bisa cair, tapi tentang kedewasaan mental untuk menahan diri. Kemudahan akses utang adalah ujian karakter, bukan prestasi. Jangan biarkan hidup Anda didikte oleh tanggal jatuh tempo aplikasi. Kemerdekaan finansial yang sejati dimulai saat kita berhenti menuruti keinginan impulsif dan mulai membangun masa depan yang realistis.

Jadilah tuan atas uang Anda, bukan budak dari gaya hidup Anda.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index